Trump Ganti Istilah AI Menjadi SI: Apa Itu Super Intelligence?

Istilah Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan mulai mendapat nama baru dalam komunikasi resmi pemerintah Amerika Serikat. Presiden Donald Trump menandatangani Executive Order pada 29 September 2026 yang mengarahkan cabang eksekutif pemerintah AS menggunakan istilah Super Intelligence (SI) sebagai pengganti AI.

Kebijakan tersebut bukan sekadar usulan nama. Executive Order 14434, berjudul Inaugurating the Era of Super Intelligence, mengatur penggunaan istilah SI dalam korespondensi resmi, komunikasi publik, situs web, laporan, dokumen kebijakan, dan dokumen nonstatutori lain di lingkungan cabang eksekutif pemerintah AS.

Namun, apakah kebijakan ini berarti AI yang digunakan saat ini sudah menjadi superintelligence? Apakah seluruh dunia teknologi akan mengganti istilah AI menjadi SI?

Jawabannya perlu dibedakan. Pemerintah AS memang telah menetapkan perubahan terminologi dalam lingkup eksekutifnya. Akan tetapi, perubahan istilah tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa semua sistem AI telah mencapai tingkat kecerdasan yang melampaui manusia.

Artikel ini membahas isi kebijakan Trump, arti Super Intelligence, perbedaan istilah SI dalam kebijakan dan riset ilmiah, serta implikasinya bagi bisnis dan dunia digital.

Apa yang Sebenarnya Dilakukan Donald Trump?

Pada 29 September 2026, Donald Trump menandatangani Executive Order 14434 yang berjudul Inaugurating the Era of Super Intelligence. Dokumen tersebut kemudian diterbitkan dalam Federal Register pada 2 Oktober 2026.

Menurut dokumen resmi Gedung Putih, pemerintah AS menganggap istilah Artificial Intelligence tidak lagi cukup menggambarkan kemampuan dan potensi teknologi yang sedang berkembang.

Karena itu, perintah tersebut mengarahkan cabang eksekutif pemerintah untuk menggunakan istilah Super Intelligence dan singkatan SI sebagai pengganti Artificial Intelligence dan AI, sejauh diizinkan oleh hukum.

Penerapannya mencakup:

  • Korespondensi resmi pemerintah.
  • Komunikasi publik dan situs web lembaga.
  • Laporan dan dokumen kebijakan.
  • Dokumen nonstatutori dalam cabang eksekutif.

Perintah itu juga menyatakan bahwa dokumen historis, peraturan yang telah diterbitkan, kontrak, dan sejumlah dokumen sebelumnya tidak harus diubah hanya untuk menyesuaikan terminologi.

Dengan demikian, kebijakan ini mempunyai cakupan administratif yang jelas. Namun, kebijakan tersebut tidak secara otomatis mengikat semua perusahaan teknologi, universitas, media, atau pemerintah negara lain.

Mengapa Trump Ingin Mengganti Istilah AI Menjadi SI?

Dalam Executive Order tersebut, pemerintah AS berpendapat bahwa kemampuan sistem teknologi mutakhir telah berkembang melampaui gambaran yang terkandung dalam istilah AI ketika istilah itu pertama kali diperkenalkan.

Dokumen tersebut menekankan kemampuan teknologi untuk memperkuat kreativitas manusia, mendukung penemuan ilmiah, membantu bidang kedokteran, dan membuka kemungkinan baru dalam berbagai sektor.

Pemerintah kemudian berargumen bahwa istilah Super Intelligence lebih tepat menggambarkan potensi dan perkembangan teknologi tersebut.

Meski demikian, ada dua hal yang perlu dibedakan.

Pertama, alasan yang dinyatakan secara resmi oleh pemerintah adalah alasan yang tercantum dalam Executive Order. Kedua, penilaian mengenai apakah istilah SI secara ilmiah lebih akurat merupakan persoalan yang masih dapat diperdebatkan.

Mengganti istilah dalam dokumen pemerintah tidak otomatis mengubah kemampuan teknis suatu sistem. Model AI tidak mendadak menjadi lebih cerdas hanya karena pemerintah menggunakan nama baru untuk kategori teknologi tersebut.

Apa Itu Super Intelligence (SI)?

Secara umum, superintelligence dalam diskusi ilmiah tentang AI merujuk pada kecerdasan yang melampaui kemampuan manusia secara luas atau pada berbagai bidang penting.

Konsep ini berbeda dari sekadar sistem AI yang dapat menjawab pertanyaan, membuat gambar, menulis kode, meringkas dokumen, atau membantu menganalisis data.

Sistem yang mampu menyelesaikan banyak tugas dengan baik belum otomatis memenuhi definisi superintelligence yang digunakan dalam penelitian. Penilaiannya bergantung pada kemampuan yang diukur, luas tugas yang dikuasai, tingkat kinerja, dan definisi yang digunakan.

Menariknya, Executive Order Trump menggunakan istilah SI dengan cara yang berbeda untuk tujuan kebijakan pemerintah.

Pada bagian definisi, perintah tersebut menyatakan bahwa SI untuk keperluan pelaksanaan kebijakan itu mencakup teknologi dan sistem yang termasuk dalam definisi artificial intelligence pada Section 9401(3) Title 15 United States Code, kecuali jika hukum menentukan lain.

Artinya, definisi administratif yang digunakan dalam perintah tersebut pada tahap awal pada dasarnya merujuk pada cakupan teknologi yang sebelumnya disebut AI. Pemerintah juga menginstruksikan penyusunan usulan bahasa legislatif untuk menetapkan definisi federal SI yang lebih lanjut.

Perbedaan ini penting karena satu istilah dapat digunakan secara berbeda dalam kebijakan pemerintah dan dalam diskusi ilmiah.

Apakah AI Saat Ini Sudah Menjadi Super Intelligence?

Belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa seluruh AI saat ini sudah menjadi superintelligence hanya karena perubahan terminologi tersebut.

Dalam penjelasan ilmiahnya pada 7 Oktober 2026, Nature membahas sains superintelligence dan mengapa istilah AI masih berguna. Artikel itu menyoroti bahwa bagi banyak peneliti, superintelligence masih merupakan kategori sistem yang diharapkan atau dibayangkan, bukan gambaran yang sudah disepakati sebagai kenyataan.

AI saat ini mencakup beragam sistem dengan kemampuan dan keterbatasan yang berbeda. Ada sistem yang unggul dalam menghasilkan teks, sistem yang menganalisis gambar, model yang membantu pemrograman, dan sistem yang digunakan untuk tugas khusus.

Kemampuan tinggi pada sejumlah tugas tidak berarti suatu sistem melampaui manusia dalam semua atau sebagian besar kemampuan kognitif.

Karena itu, ada tiga hal yang tidak boleh disamakan:

  1. Perubahan nama: pemerintah memutuskan menggunakan istilah baru dalam komunikasi resmi.
  2. Perubahan definisi kebijakan: pemerintah menetapkan kategori teknologi untuk keperluan administratif atau hukum.
  3. Perubahan kemampuan teknis: sistem benar-benar menunjukkan peningkatan kemampuan yang dapat dibuktikan melalui evaluasi.

Ketiganya dapat berkaitan, tetapi tidak berarti hal yang sama.

Apakah Istilah AI Akan Hilang dari Dunia Teknologi?

Tidak ada dasar untuk menyatakan bahwa istilah AI akan segera hilang secara global.

Executive Order Trump berlaku dalam lingkup cabang eksekutif pemerintah AS sejauh diizinkan hukum. Perintah tersebut bukan keputusan internasional yang mewajibkan semua negara dan perusahaan mengganti istilah AI.

Perkembangan setelah penandatanganan perintah menunjukkan adanya penyesuaian di beberapa lembaga pemerintah AS. Pada 5 Oktober 2026, National Institute of Standards and Technology (NIST) menerbitkan catatan bahwa lembaga tersebut sedang menyesuaikan komunikasi situs webnya untuk menggunakan istilah SI sesuai perintah tersebut.

Reuters juga melaporkan pada 6 Oktober bahwa Departemen Kehakiman AS mengarahkan stafnya untuk menggunakan istilah super intelligence dalam sebagian besar konteks, termasuk proses hukum tertentu.

Sumber:

Perkembangan itu memperlihatkan bahwa perubahan terminologi sedang diterapkan di lingkungan pemerintahan AS. Namun, belum cukup untuk menyimpulkan bahwa industri teknologi global akan mengikuti pendekatan yang sama.

Untuk bisnis dan pengguna teknologi di Indonesia, istilah AI tetap penting digunakan karena masih luas dipahami dan digunakan dalam dokumentasi, produk, penelitian, serta komunikasi industri.

Apa Dampak Perubahan Istilah SI bagi Bisnis?

Bagi pemilik bisnis, perubahan istilah ini lebih relevan sebagai perkembangan kebijakan dan komunikasi teknologi daripada sebagai perubahan langsung pada cara kerja perangkat AI yang digunakan sehari-hari.

Ada beberapa implikasi yang patut diperhatikan.

1. Jangan Menilai Teknologi Hanya dari Namanya

Nama produk atau kategori teknologi bukan ukuran yang cukup untuk menentukan kualitasnya.

Saat memilih AI untuk riset, customer service, pembuatan konten, analisis data, atau otomatisasi, bisnis perlu memeriksa kemampuan aktual, tingkat akurasi, keamanan data, biaya, integrasi, dan kesesuaiannya dengan kebutuhan.

Istilah SI tidak seharusnya menjadi alasan tunggal untuk menganggap suatu produk lebih canggih atau lebih layak digunakan.

2. Perhatikan Perubahan Kebijakan dan Regulasi

Perubahan istilah dalam dokumen pemerintah dapat memengaruhi cara lembaga menyusun komunikasi, kebijakan, dan dokumen administratif.

Perusahaan yang beroperasi di berbagai negara perlu memantau perubahan yang benar-benar berlaku bagi industri dan wilayah operasional mereka. Namun, tidak semua perubahan terminologi di satu negara akan otomatis menjadi kewajiban bagi perusahaan di negara lain.

3. Fokus pada Dampak Bisnis yang Dapat Diukur

Penggunaan AI sebaiknya dievaluasi berdasarkan pekerjaan yang berhasil diselesaikan, waktu yang dihemat, kualitas hasil, biaya operasional, dan risiko yang dapat dikendalikan.

Sebagai contoh, bisnis dapat menguji apakah AI membantu mempercepat riset pelanggan, membuat draft konten lebih efisien, menganalisis data pemasaran, atau menyusun laporan.

Keputusan untuk menerapkan teknologi harus didasarkan pada hasil pengujian dan kebutuhan nyata, bukan sekadar mengikuti istilah yang sedang populer.

4. Gunakan Istilah yang Jelas dalam Komunikasi

Dalam komunikasi bisnis, penggunaan istilah AI masih masuk akal ketika audiens memahami istilah tersebut. Jika istilah SI digunakan, jelaskan konteksnya agar pembaca tidak menganggap bahwa semua sistem AI telah mencapai tingkat superintelligence.

Kejelasan istilah membantu perusahaan menghindari klaim berlebihan dan menjaga kredibilitas di hadapan pelanggan.

Apa yang Perlu Dilakukan Pelaku Digital Marketing?

Bagi praktisi digital marketing, berita ini dapat menjadi bahan untuk memahami perubahan narasi tentang teknologi. Namun, tidak ada alasan untuk mengubah seluruh strategi pemasaran hanya karena pemerintah AS menggunakan istilah baru.

Prioritas yang lebih praktis meliputi:

  • Menggunakan AI untuk mendukung riset, analisis, dan pengembangan konten dengan pemeriksaan manusia.
  • Mengevaluasi kualitas output, bukan hanya kecepatan produksi.
  • Menjaga akurasi informasi dan transparansi terhadap klaim teknologi.
  • Menguji dampak penggunaan AI terhadap efisiensi dan hasil pemasaran.
  • Memperbarui pengetahuan ketika ada perubahan kebijakan yang benar-benar relevan dengan bisnis.

Meta Digital membahas perkembangan AI dari sudut pandang yang berorientasi pada kebutuhan bisnis: apa yang berubah, bagaimana dampaknya, dan tindakan apa yang layak dipertimbangkan.

Untuk memahami penerapan praktisnya, baca juga artikel AI untuk Bisnis 2026 dan SEO di Era AI.

FAQ tentang Trump, AI, dan Super Intelligence

Apa arti SI yang digunakan Donald Trump?

SI merupakan singkatan dari Super Intelligence. Executive Order 14434 mengarahkan cabang eksekutif pemerintah AS menggunakan istilah tersebut sebagai pengganti AI dalam komunikasi resmi, sejauh diizinkan hukum.

Apakah Trump resmi mengganti nama AI menjadi SI?

Ya, dalam konteks kebijakan komunikasi cabang eksekutif pemerintah AS melalui Executive Order 14434 tanggal 29 September 2026. Kebijakan itu tidak otomatis mengikat seluruh dunia atau menghapus istilah AI dari penggunaan global.

Apa perbedaan AI dan superintelligence?

AI adalah istilah luas untuk teknologi yang menjalankan tugas yang berkaitan dengan kemampuan kecerdasan. Dalam banyak diskusi ilmiah, superintelligence merujuk pada sistem yang melampaui kemampuan manusia secara luas. Namun, definisi SI dalam Executive Order Trump digunakan untuk tujuan kebijakan pemerintah dan pada tahap awal merujuk pada cakupan teknologi yang sebelumnya didefinisikan sebagai AI.

Apakah semua AI sekarang termasuk superintelligence?

Tidak tepat menyimpulkan demikian dalam pengertian ilmiah hanya dari kebijakan penamaan. Kemampuan sistem harus dinilai berdasarkan bukti, tugas yang dapat diselesaikan, dan definisi yang digunakan. Perubahan terminologi pemerintah bukan bukti bahwa semua sistem telah melampaui kemampuan manusia.

Apakah perusahaan di Indonesia harus mengganti istilah AI menjadi SI?

Executive Order tersebut mengatur cabang eksekutif pemerintah AS. Tidak ada ketentuan dalam perintah itu yang secara otomatis mewajibkan perusahaan Indonesia mengganti istilah AI menjadi SI.

Apakah bisnis perlu mulai menggunakan istilah SI dalam pemasaran?

Belum ada kebutuhan umum untuk mengganti istilah AI dalam komunikasi bisnis di Indonesia. Gunakan istilah yang dipahami audiens, jelaskan konteks ketika membahas SI, dan hindari mengklaim bahwa suatu produk merupakan superintelligence tanpa dasar yang memadai.

Kesimpulan

Keputusan Donald Trump menggunakan istilah Super Intelligence sebagai pengganti Artificial Intelligence dalam komunikasi resmi cabang eksekutif pemerintah AS merupakan perkembangan kebijakan yang nyata. Executive Order 14434 mengatur penggunaan istilah tersebut dan menginstruksikan penyusunan usulan definisi federal SI lebih lanjut.

Namun, perubahan terminologi ini tidak membuktikan bahwa seluruh AI saat ini telah mencapai superintelligence. Istilah SI dalam kebijakan pemerintah juga perlu dibedakan dari makna ilmiahnya, yang umumnya merujuk pada kecerdasan yang melampaui kemampuan manusia secara luas.

Bagi bisnis, pelajaran terpenting bukan sekadar mengikuti nama baru. Yang lebih penting adalah memahami perkembangan teknologi secara kritis, mengevaluasi kemampuan aktual, menjaga akurasi informasi, dan menggunakan AI berdasarkan kebutuhan serta dampak yang dapat diukur.

Teknologi boleh berubah, istilah dapat berkembang, tetapi keputusan bisnis tetap perlu didasarkan pada bukti, konteks, dan hasil yang nyata.